Riyanti
biasa aku dipanggil , aku duduk di kelas 9 salah satu SMP di Jakarta. Aku memiliki teman, aku sering
memanggilnya Nur Fadhillah, Nur
Fadhillah sama denganku sama-sama duduk di kelas 9, tetapi sekolahnya dangan sekolahku
berbeda. Nur Fadhillah adalah orang yang
aku sukai sejak kelas 3 SD, namun ketika aku duduk di kelas 7, aku benar-benar
putus komunikasi dengannya. Aku mulai dekat dengannya lagi semenjak temanku
mengenalkan Nur Fadhillah kepadaku,
semenjak itulah aku mulai dekat dengannya lagi, sempat pacaran walaupun hanya
sebentar.
Aku
senang kalau aku mengingat saat aku dekat dengan Nur Fadhillah. Pada waktu itu
tanggal 10 Oktober 2012, Thia temanku sedang bersamaku, aku dan Thia sedang
menjenguk guru kami yang baru saja melahirkan, disaat itulah Thia mengenalkan Nur
Fadhillah kepadaku. Dari situ pulalah aku dan Nur Fadhillah kembali dekat
setelah satu tahun tidak komunikasi. Awalnya canggung sekali, karena aku dan Nur
Fadhillah benar-benar baru berkenalan, seperti empat tahun yang
lalu. Aku dan Nur Fadhillah saling mengirim pesan singkat, hingga beberapa saat
kemudian Nur Fadhillah mengutarakan perasaannya kepadaku” aku suka sama kamu, kamu mau gak menjadi kekasihku?”, tanpa pikir
panjang aku pun menerima Nur Fadhillah
“iya, aku mau menjadi kekasih mu”. Hari itu sangat indah bagiku dan
baginya mungkin.
Setelah
satu bulan berlalu aku dan Nur Fadhillah
pun bersepakat untuk mengakhiri hubunganku dengan Nur Fadhillah. Sedih,
tetapi itu sudah keputusan aku dengannya. Hubungan Nur Fadhillah dan aku
berakhir, karena aku dan Nur Fadhillah masih belum bisa melupakan masa lalu
kami berdua. Setelah hubungan Nur Fadhillah denganku berakhir, kedekatan aku dengan Nur Fadhillah pun kembali seperti
biasa, sehingga jarang untuk berkomunikasi.
Setelah
sekian lama, akhirnya Nur Fadhillah mengirimkan
pesan singkat untuk ku “Riyanti?”. Awalnya aku tidak tahu siapa yang
mengirimkan pesan untukku, aku bertanya kepada Thia “Thia, kamu tahu tidak ini
nomer telepon siapa?”, tidak lama kemudian telpon genggamku menyala. Ternyata
ada balasan dari Thia, thia menjawab “aku tau Ri, itu nomernya Nur Fadhillah”
aku bingung dan sangat terkejut. Senang perasaanku ketika Thia menjawab seperti
itu, tidak percaya memang, tetapi itu sudah nyata bahwa Nur Fadhillah yang
mengirimkan pesan itu untukku. Aku sesegera
mungkin membalas pesan dari orang yang
ternyata Nur Fadhillah, “iya? Apa benar ini Nur Fadhillah?”.
Siang
pun berganti malam, pada saat aku ingin mengambil air wudhu telpon genggamku
berbunyi, aku pun segera berlali ke kamar untuk melihat siapa yang mengirim
pesan untukku, dengan santai aku membuka
pesan itu. Dan ternyata pesan itu dari Nur Fadhillah, pesan itu berisi “iya Ri,
ini aku Nur Fadhillah. Kamu apa kabar Ri?”, aku berteriak-teriak di kamar
kegirangan. Mungkin ini yang dibilang cinta lama bersemi kembali. Aku membalas
pesan dari Ulhaq “aku baik Dhil, kamu?” . aku melanjutkan niatku untuk
mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat magrib. Setelah aku selesai
sholat, telepon genggamku menyala lagi, tapi aku abaikan telpon ku, dan melanjutkan
langkahku untuk mengambil buku yang ada di lemari bukuku, tanpa memperdulikan
telpon genggam ku yang sedang menyala.
Tiga
jam berlalu aku mulai merasakan kantuk yang sangat berat, aku pun segera
merapikan buku yang telah aku pelajari tadi. Aku sebenarnya berniat untuk
sholat isya, tetapi rasanya sangat malas untuk melaksanakannya. Aku pun duduk
di tempat tidurku dengan telpon genggam yang berada di kananku. Aku baru ingat,
kalau telpon genggamku tadi ada pesan. Aku segera mengambil telponku, lalu aku
segera membuka pesan itu. Ada lima pesan yang belum ku baca, ternyata pesan itu
semuanya dari Nur Fadhillah, pesan itu berisi “Riyanti?”, ”kamu lagi apa?”, “Riyanti?”,
“Hy”, “malam”. Aku bingung mau balas apa, aku pun membalas pesan dari Nur
Fadhillah.
Aku
membalas “iya,Dhil? Maaf habis belajar.”
“oh,
maaf ya mengganggu mu.” Nur Fadhillah membalas pesanku lagi.
“iya,
tidak mengganggu kok. Kamu sendiri sedang apa?” Balas aku.
“aku
sedang menunggu pesanmu.Riyanti, kamu jangan terbang ya.” Balasnya.
Aku
senang saat hubunganku dengan Nur Fadhillah kembali seperti dulu, ya walaupun
tidak semanis awal bertemu. Satu tahun berlalu semakin lama aku dengannya
semakin dekat, ya memang Nur Fadhillah pada saat itu sudah berganti-ganti
pasangan. Pada tanggal 8 September aku mulai akrab lagi dengannya. Nur
Fadhillah, ya bukan Nur Fadhillah namanya kalo tidak bikin aku cemburu. Pada
waktu itu Nur Fadhillah berenang bareng sama Tami, malamnya Nur Fadhillah mengirimkan
pesan kepadaku, isinya “Riyanti tadi aku berenang barsama-sama Tami”. Disitu
tergambar bahwa Nur Fadhillah senang bertemu kembali dengan masalalunya yang
menurutnya sangat indah.
Dia
mengirim pesan seperti ini “Riyanti, kamu mau berenang tidak?”
“Tidak,
Dhill.” Jawabku.
“Mengapa?”
dia membalas pesan dariku.
Aku
menjawab “aku tidak bisa renang,Dhill.”
“akan
aku ajari, agar kamu bisa” jawab Nur Fadhillah dengan lembut
Nur
Fadhillah baik dan menurutku dia juga perhatian. Dia juga terkadang sangat
menyebalkan. Entah kenapa, Nur Fadhillah sering jutek dan tidak peduli
denganku. Pada Senin tepatnya tanggal 9 September aku tidak masuk sekolah, karna
aku sakit. Pada malamnya aku hendak mengambil jadwal pelajaran baru di rumah
temanku yang jjaraknya lumayan jauh dari rumahku. Kebetulan Nur Fadhillah sedang
tidak sibuk saat itu, aku memintanya untuk mengantarku ke rumah Anggraeni.
Aku
bilang “Dhill, bisa antar aku tidak?”
“kemana?”
Tanya Nur Fadhillah.
“ke
rumah Anggraeni,Dhill. Aku mau ambil jadwal baru, tadi aku tidak masuk sekolah
jadi dititipkan di Anggraeni”. Jawabku.
“yaudah,
tunggu aku.” Jawabnya ramah.
“iya,
aku tunggu kamu di dekat rumahku.” Jawabku agak deg-degan, maklum saja aku baru
pertama kali jalan bersamanya.
“aku
sudah sampai villa”. Bilangnya.
“ya
sudah, aku sudah di dekat rumahku.” Jawabku.
Sesampainya
aku di dekat rumahku, aku berdiri menunggunya dengan perasaan yang entah
gimana, pokoknya campur aduk semua. Tidak terlalu lama berselang, Nur Fadhillah
tiba dengan mengendarai sepeda motor(Yamaha mio) berwarna merah. Disitulah aku
bingung harus berkata apa padanya.
“kerumah
Anggraeni kan?” tanyanya padaku.
“iya,
kamu tahukan rumahnya?” berbalik tanya pdanya.
“tahu
kok. Ayo cepat naik.” Katanya padaku.
Sepanjang
perjalanan ke rumah Anggraeni aku dan Nur Fadhillah hanya diam tanpa ada kata
yang keluar dari mulut kami. Sedikit lagi sampai Nur Fadhillah bertanya padaku
“rumahnya belok ke kanan kan?” aku menjawab “iya, kamu tunggu depan saja.” Nur
Fadhillah berkata “tidak usah, aku masuk saja”, aku pun sesegera mungkin turun
dan berjalan tidak jauh untuk menghampiri rumah anggraeni.
“assalamu’alaikum,
Anggraeni?” aku memanggil dengan tangan yang mengetuk pintu rumah Anggraeni.
“iya,
wa’alaikumsalam. Masuk Riyanti, Anggraeninya didalam.” Terdengar suara dari
dalam.
Tidak
lama kemudian Anggraeni keluar dengan membawa jadwal di tangannya. Ia berkata “nih
jadwalnya, yang diganti hanya hari jum’at. Kamu sama siapa Ri?”
“sama
Nur Fadhillah.” Terlukis senyum merona di wajahku.
“hah?
Serius? Ko bisa?” Anggraeni menjawab dengan rona muka terkejut.
“aku
pulang dulu ya. Terima kasih.” Aku berkata dengan wajah yang berseri.
“iya
hati-hati di jalan ya, Ri” Anggraeni berkata.
Aku
segera menghampiri motor yang tidak jauh dari posisi yang aku tempati saat ini.
Aku segera naik. “sudah?” Nur Fadhillah berkata. “sudah kok.” Jawab ku, di
perjalanan Nur Fadhillah bertanya padaku “mau kemana lagi?”, aku menjawab
“terserah kamu”. Disebuah warung es Nur Fadhillah menghentikan motornya dan ia
berkata “mau beli es,Ri?”, aku hanya menjawab “terserah,Dhill. Aku terserah
kamu aja.”
Setelah
itu aku dan Nur Fadhillah segera melanjutkan perjalanan ke rumah. Sampailah aku
di depan rumahku. Aku hanya berkata “makasih ya,Dhill. Hati-hati di jalan.”. “iya,
sama-sama.” Nur Fadhillah menjawab. Tidak lama sesampainya aku di rumah, air
hujan pun menetes semakin deras. Aku segera masuk kamar dan mengirim pesan
untuk Nur Fadhillah “sudah sampai rumah?”, Nur Fadhillah menjawab “belum, aku
kehujanan dan sekarang aku ada di indomart.”.
Aku cemas membaca pesan darinya, karna memang Nur
Fadhillah baru sembuh. Aku berkata “kalau sudah sampai rumah ganti baju
langsung, agar kamu tidak sakit.” Tidak lama Nur Fadhillah membalas pesanku, Nur
Fadhillah berkata “iya, aku sudah sampai rumah. Aku deg-degan saat jalan denganmu.”,
lalu aku membalas “iya,Dhill. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu.”
Keesokan
harinya, Nur Fadhillah sama sekali tidak membalas pesanku. Aku khawatir dengan
keadaannya, jujur aku sangat khawatir dengan keadaannya kalau dia tidak
membalas pesan dariku. Aku sangat takut kehilangannya, aku seperti ini karna
aku menyayanginya. Entah apa yang membuat aku setia untuk menyayanginya, aku
hanya berfikir kalau dia adalah seseorang yang aku cari. Aku bahkan rela
menunggunya, hingga dia membuka hatinya lagi untukku. Aku hanya berdo’a agar
suatu saat nanti aku akan dipertemukan untuk bersamanya hingga nanti.